JAKARTA, RT 02 RW 08 Slawi Kulon Kain Sasirangan dan Pagatan menjadi kain tradisional pilihan Perancang Busana Vivi Zubedi untuk dipamerkan ke gelaran New York Fashion Week 2018.Rupanya, ada cerita menyentuh di balik dipilihnya kain khas Kalimantan Selatan itu.
Ini diawali penelusuran Vivi terhadap kain Sasirangan, jenis kain tenun yang saat ini masih belum banyak diketahui, bahkan oleh masyarakat Indonesia sendiri.
Dalam penelusurannya, ia kemudian menemukan kain Pagatan di wilayah yang sana. Vivi pun memikirkan untuk mengkolaborasikan dua jenis kain tenun tersebut agar lebih dikenal secara luas.
Namun, yang ditemukannya justru hal lain yang tak berkaitan dengan ketertarikannya terhadap fesyen.
"Ternyata saya menemukan sisi lain kehidupan bahwa para ibu pengrajin kain ini masih sangat jauh dari kata sejahtera. Saya masuk ke desa tersebut kayak kembali ke masa lampau," ujar Vivi dalam konferensi persnya di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (31/1/2018).
Perempuan lulusan Universitas Sumatera Utara (USU) itu kaget saat mengetahui upah para pengrajin tersebut.
"Saya tanya ke ibu yang menggambar, biasanya upahnya Rp 1.000 per kain. Lalu ke penjahit yang membuka jelujur. Itu sulit, lho. Kalau salah sedikit kainnya bisa bolong. Untuk yang motifnya ramai itu hanya diupah Rp 500."
"Dia bilang kalau mau banyak penghasilannya dia harus kerjain sekitar 50 lembar sehari," kata Vivi.
Dimulai dari mengadakan seminar kecil - kecilan, Vivi banyak berbincang dengan para pengrajin.
Ia berharap, kesempatan yang dimilikinya di NYFW bisa membantu kain tersebut agar lebih dikenal. Sebagian hasil penjualan juga akan didonasikan untuk para pengrajin.
"Saya harap dengan adanya kegiatan fesyen tingkat dunia ini, mata fesyen akan lebih terbuka terhadap kain daerah dan permintaannya akan semakin meningkat. Saya berharap kehidupan mereka ikut terangkat juga," kata Vivi.
Dari : Kompas
RT 02 RW 08 Slawi Kulon Hijab, Musik RT 02 RW 08 Slawi Kulon
Ini diawali penelusuran Vivi terhadap kain Sasirangan, jenis kain tenun yang saat ini masih belum banyak diketahui, bahkan oleh masyarakat Indonesia sendiri.
Dalam penelusurannya, ia kemudian menemukan kain Pagatan di wilayah yang sana. Vivi pun memikirkan untuk mengkolaborasikan dua jenis kain tenun tersebut agar lebih dikenal secara luas.
| Cerita Menyentuh di Balik Dibawanya Kain Kalimantan ke NYFW (Sumber Gambar : KOMPAS) |
Cerita Menyentuh di Balik Dibawanya Kain Kalimantan ke NYFW
Desainer yang terkenal dengan koleksi abayanya ini kemudian menelusuri lebih lanjut mengapa kain tersebut bisa tak "terdengar" ke luar daerah dan belum tereksplor.Namun, yang ditemukannya justru hal lain yang tak berkaitan dengan ketertarikannya terhadap fesyen.
"Ternyata saya menemukan sisi lain kehidupan bahwa para ibu pengrajin kain ini masih sangat jauh dari kata sejahtera. Saya masuk ke desa tersebut kayak kembali ke masa lampau," ujar Vivi dalam konferensi persnya di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (31/1/2018).
RT 02 RW 08 Slawi Kulon
Ia pun mempelajari proses pembuatan kain tersebut termasuk mempraktikkannya. Mulai dari proses menggambar, proses jeluhur, pencelupan, hingga membuka kembali jelujuran.Perempuan lulusan Universitas Sumatera Utara (USU) itu kaget saat mengetahui upah para pengrajin tersebut.
"Saya tanya ke ibu yang menggambar, biasanya upahnya Rp 1.000 per kain. Lalu ke penjahit yang membuka jelujur. Itu sulit, lho. Kalau salah sedikit kainnya bisa bolong. Untuk yang motifnya ramai itu hanya diupah Rp 500."
"Dia bilang kalau mau banyak penghasilannya dia harus kerjain sekitar 50 lembar sehari," kata Vivi.
RT 02 RW 08 Slawi Kulon
Ia mengaku sedih dengan fakta tersebut. Padahal, kain - kain yang mereka hasilkan harganya bisa jutaan rupiah jika sudah dijadikan busana. Vivi pun berdiskusi dengan pemerintah setempat agar para pengrajin bisa berkembang.Dimulai dari mengadakan seminar kecil - kecilan, Vivi banyak berbincang dengan para pengrajin.
Ia berharap, kesempatan yang dimilikinya di NYFW bisa membantu kain tersebut agar lebih dikenal. Sebagian hasil penjualan juga akan didonasikan untuk para pengrajin.
"Saya harap dengan adanya kegiatan fesyen tingkat dunia ini, mata fesyen akan lebih terbuka terhadap kain daerah dan permintaannya akan semakin meningkat. Saya berharap kehidupan mereka ikut terangkat juga," kata Vivi.
Dari : Kompas
RT 02 RW 08 Slawi Kulon Hijab, Musik RT 02 RW 08 Slawi Kulon
Cerita Menyentuh di Balik Dibawanya Kain Kalimantan ke NYFW
Reviewed by Unknown
on
Selasa, Oktober 03, 2017
Rating: